Cheung!

Unlocking the Arsenal: Explore Military Technology

Sebagian besar masyarakat Banjar menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Hal ini bisa dilihat banyaknya lahan sawah yang ditemukan di Banjar. Sayangya, hujan yang mulai jarang turun membuat sawah di Banjar menjadi kering. Kondisi ini diperparah dengan penyumbatan saluran irigasi yang menjadi sumber pengairan utama bagi petani Banjar. Lalu apa yang dilakukan petani dengan adanya masalah tersebut? Yuk simak ulasan berikut ini.

Table of Contents

Mengulik Penyebab Sawah Kering di Banjar

Irigasi memiliki peran yang sangat penting di daerah Banjar untuk mengairi sawah dari Rawa Onom hingga ke Randegan. Namun irigasi tersebut belakangan tidak berfungsi dan malah ditumbuhi oleh rerumputan. Berdasarkan pernyataan seorang warga Banjar Emed Setiawan, saluran irigasi tersebut memang sudah lama tidak ada airnya sehingga menjadi kering. Dulunya, irigasi tersebut mengaliri sawah warga, namun pada tahun 2012 irigasi menjadi tidak berfungsi sehingga sawah yang mencapai puluhan hektar menjadi kering.

Sedangkan warga hanya bisa mengandalkan air hujan agar sawahnya bisa ditanami padi. Warga yang berprofesi sebagai petani sudah melaporkan hal tersebut kepada berbagai pihak termasuk pihak Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy. Tanggapan yang diterima yaitu pihak mereka akan melakukan perbaikan dan normalisasi. Namun, setelah dilakukan normalisasi, sawah tetapi tidak teraliri air sehingga para petani kebingungan mencari cara agar irigasi bisa tetap teraliri air lagi.

Awalnya, sawah di Banjar merupakan sawah irigasi teknis. Namun, mengingat kondisi irigasi yang mengiring hingga saat ini maka sawah tersebut akhirnya menjadi sawah tadah hujan. Jika dalam tiga hari saja tidak turun hujan, maka sawah tersebut menjadi kering dan berdampak pada tanaman yang ditanam. Hasil panen pun menjadi tidak maksimal sehingga keuntungan yang diperoleh juga menurun. Sebelumnya warga juga sempat mengajukan dibangunnya bendungan.

Mereka mengajukan permohonan kepada anggota DPRD Kota, dan permintaan tersebut dikabulkan. Sayangnya, pembangunan bendungan hanya di daerah utara saja sehingga sawah di daerah lain tidak bisa teraliri. Lebih parahnya beberapa wilayah tidak bisa ditanami padi. Tentu harapan dari petani Banjar, agar saluran irigasi tersebut bisa berfungsi sehingga sawah di daerah Banjar tidak kekeringan dan secara tidak langsung juga berimbas pada sektor pertanian kota Banjar.

Kondisi sawah Banjar yang kekeringan ini sebagaimana diberitakan oleh Portal Berita Kota Banjar dimana Dinas Ketahanan Pangan, Pertanin dan Perikanan Kota telah menanggapi keluhan wargannya. Sebelum datangnya virus Corona, telah dilakukan pemantauan dan evaluasi mengenai sawah yang mengalami kekeringan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penyebab irigasi yang  tidak berfungsi.

Setelah dicari tahu permasalahannya ternyata penyebab irigasi tidak bisa berfungsi karena terjadi penyumbatan akibat longsoran tanah dari hutan. Hal ini menyebabkan air tak bisa mengaliri sawah yang ada di sebagian wilayah Banjar. Sebelumnya, pihak Dinas juga sudah melaporkan masalah irigasi tersebut ke BBWS Citanduy serta PU Kota Banjar. Meskipun memberikan tanggapan untuk segera memperbaikinya, kenyataannya sampai saat ini irigasi masih belum berfungsi.

Akibat Sawah Kekeringan Petani Beralih Menanam Ubi Jalar

Sawah yang kekurangan air akibat saluran irigasi yang tidak berfungsi jika dipaksakan menanam padi tentu hasilnya akan jelek. Apalagi tanaman padi membutuhkan air yang cukup banyak. Mungkin menanam padi masih bisa dilakukan ketika  musim hujan. Namun, jika sudah musim kemarau maka sawah tidak akan mendapatkan air sama sekali. Hal ini memberikan kerugian yang cukup besar bagi warga Banjar yang berprofesi sebagai petani, salah satunya Haeruman.

Namun hal ini lantas tak membuatnya menyerah begitu saja. Sawah milik petani Banjar ini mengalami kekeringan sehingga tidak bisa dipaksakan untuk menanam padi. Oleh sebab itu, warga yang suda berusia 60 tahun ini berinisiatif untuk menanam ubi jalar di lahan seluas 75 bata sebagai pengganti tanaman padi. Biasanya waktu yang dibutuhkan ubi jalar agar bisa dipanen yaitu sekitar 3 bulan. Ia mengatakan jika sekali  panen bisa menghasilkan ubi jalar sebanyak 8 kuintal.

Jika hasil panennya cukup baik, penjualan ubi jalar dinilai cukup menguntungkan. Ia menceritakan jika ubi jalar tersebut dijual kepada pengepul dengan harga tiga ribu rupiah per kilo. Namun, jika kondisi pannen sedang tidak bagus maka ubi tersebut tidak laku dijual sehingga digunakan sebagai pakan ikan. Meskipun demikian, ia berpendapat jika pangan dari hasil bertani sangat membantu ekonominya apalagi saat terjadinya wabah virus Corona seperti saat ini.

Sebelumnya, pihak pemkot sudah memperingatkan kepada warga untuk tidak menanam padi. Apalagi BMKG juga sudah memprediksi jika sebentar lagi sudah memasuki musim hujan. Pihak Dinas juga telah memberikan surat kepada masyarakat agar menanam selain padi seperti palawija yang berumur ganjah. Palawija yang terdiri dari berbagai jenis tanaman tidak membutuhkan air yang terlalu banyak untuk bertahan hidup serta berkembang biak hingga panen.

Beberapa jenis palawija yang sebenarnya bisa ditanam yaitu cabai merah, cabai hijau, jagung, buncis, tomat hingga mentimun. Selain itu, warga juga dapat beralih ke singkong atau kedelai. Petani Banjar bisa memperoleh keuntungan yang lumayan bagus dibandingkan memaksakan untuk menanam padi. Menanam padi memiliki resiko yang cukup tinggi. Jika dipaksakan maka bukan keuntungan yang diperoleh, justru petani malah rugi karena kegagalan panen akibat padi kekurangan air.

Selain sebagai solusi untuk menghindari kegagalan panen, menanam palawija juga memberikan sejumlah manfaat bagi tanah. Menanam satu jenis tanaman di lahan yang sama bisa mengakibatkan ketidakseimbangan unsur asam dan basa pada tanah. Hal ini bisa mengakibatkan tanah yang terlalu masam. Dengan menanam palawija, maka pH tanah dapat ditingkatkan. Palawija juga memiliki masa panen yang lebih cepat sehingga lebih menguntungkan.

Selain itu, sawah yang terlalu kering pada saat musim kemarau bisa diantisipasi dengan menyediakan pompa. Daerah yang rawan kekeringan sangat membutuhkan pompa air agar bisa disalurkan ke lahan yang kering terutama lahan pertanian. Pompa air ini bisa ditempatkan di daerah yang memiliki sumber mata air, sehingga lahan yang jauh bisa mendapatkan pengairan. Tentu pemerintah juga harus ikut andil dalam upaya peningkatan ketahanan pangan.

Warga dan pemerintah daerah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki saluran irigasi yang memiliki peran penting bagi sawah di Banjar. Namun, dari beberapa solusi yang telah dilakukan, irigasi masih belum berfungsi sehingga sawah masih tetap kekeringan. Tentu jika dipaksakan menanam padi sangat berpotensi pada kegagalan panen. Oleh sebab itu, sebaiknya warga setempat beralih ke tanaman palawija.

Tak Lekas Menyerah Karena Sawah Kering, Petani Banjar Beralih Tanam Ubi Jalar
Scroll to top