Category Archives: Islam

Hukum Haji Bagi yang Tidak Mampu

Haji merupakan salah satu ibadah yang ingin dijalankan bagi umat manusia. Namun, tahukah kamu bagaimana hukum haji bagi yang tidak mampu? Apalagi Biaya Haji Plus yang tambah tahun semakin mahal, apakah yang tidak mampu diperbolehkan tidak melaksanakan ibadah haji atau bagaimana? Untuk itu, artikel ini akan membahas mengenai hukum tersebut.

Inilah Hukum Haji Untuk yang Tidak Mampu

Pada dasarnya hukum haji bagi yang tidak mampu sudah dijelaskan dengan jelas dalam umat Islam. Untuk itu, kamu tidak perlu lagi bingung mengenai hukum tersebut. Pasalnya, haji sendiri memang bisa dilaksanakan untuk kamu yang sudah mampu melaksanakannya.

Pengertian haji

Kata haji berasal dari kata hajja yang dalam bahasa Arab artinya bersengaja/berziarah. Haji sendiri menurut istilah merupakan sebuah kegiatan yang dengan sengaja hadir mendatangi ka’bah. Di dalam ibadah haji sendiri ada sejumlah rukun haji yang wajib untuk dilakukan.

Di dalam Al-Qur’an sendiri sudah banyak ayat yang memerintahkan untuk pergi berhaji. Salah satu surat yang menerangkan terkait haji ini adalah Surat Ali Imran ayat 97. Di dalamnya Allah SWT menegaskan setiap manusia diharuskan membuat perjalanan haji.

Kewajiban berhaji

Jika menilik ayat di atas, ibadah haji hukumnya fardu ‘ain yang maksudnya diwajibkan bagi pemeluk agama Islam. Namun, kewajiban tersebut tidak pukul rata begitu saja. Kewajiban tersebut diwajibkan bagi hambanya yang sudah mampu melaksanakan perjalanan haji.

Beberapa kriteria yang dimaksud mampu antara lain:

  1. Sehat secara fisik

Dalam poin ini sangat jelas bahwa ibadah haji diperuntukkan untuk orang yang mampu secara fisik. Namun, persyaratan ini juga bisa digantikan melalui badal haji. Bahkan ibadah haji bisa diwakilkan untuk orang yang sudah meninggal.

  1. Memungkinkan secara transportasi

Allah SWT sendiri tidak memberatkan hambanya saat melaksanakan ibadah. Untuk itu, ibadah haji ini bisa dilakukan jika ada transportasi penunjangnya. Contohnya, jemaah haji dari Indonesia bisa berangkat berhaji menggunakan pesawat ke Arab Saudi.

  1. Keamanan terjamin

Salah satu poin yang penting dilakukan adalah keamanan. Aspek keamanan sendiri meliputi keamanan saat perjalanan hingga keamanan saat mempersiapkan keberangkatan. Untuk itu, jika semua ternyata aman maka segeralah menunaikan ibadah haji.

  1. Finansial terjamin

Perimbangan lain yang harus dipenuhi adalah finansial yang terjamin. Jika ternyata aspek finansial tidak memungkinkan, maka tidak ada kewajiban manusia untuk melaksanakan ibadah haji. Aspek ini juga memastikan keluarga di rumah tetap bisa hidup aman.

  1. Muhrim bagi perempuan

Untuk jemaah haji perempuan, terutama yang sudah berumur haruslah dibantu oleh muhrimnya. Muhrim yang dimaksud meliputi suami atau keluarganya. Tentunya hal ini dimaksudkan agar ibadah haji lebih aman dan nyaman hingga kembali ke rumah.

Hukum melaksanakan ibadah haji

Beberapa poin di atas tentunya sudah memberikan gambaran yang jelas mengenai kewajiban haji. Jika seluruh poin di atas bisa terpenuhi, artinya kewajiban haji mutlak harus dilakukan. Bahkan kewajiban ini menjadi hutang jika tidak dilakukan hingga saatnya meninggal dunia.

Meski pun begitu, apa bila beberapa syarat di atas sangat berat dan tidak memungkinkan dilakukan, maka kewajiban haji tidak ditanggung orang tersebut. Namun, hal ini harusnya menjadi motivasi agar setiap orang berusaha menyempurnakan diri untuk berangkat haji.

Ibadah haji sendiri bukanlah sebuah aktivitas yang ringan. Bahkan sebelum berangkat berhaji diperlukan program pelatihan manasik haji agar aktivitas ibadahnya bisa lebih sempurna. Untuk itu, jika tidak memungkinkan maka tidak ada kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji.

Untuk itu, kamu tidak perlu bingung lagi. Jika memang tidak mampu melaksanakan ibadah haji, maka kamu tidak mendapatkan kewajiban berhaji. Namun, hal ini bukan berarti kamu bersantai dan tidak termotivasi untuk melaksanakan ibadah haji tersebut.

Hukum tidak berhaji padahal mampu

Jika sebelumnya kamu sudah mengetahui hukum haji bagi yang tidak mampu, kali ini kita akan membahas hukumnya jika tidak berhaji padahal mampu. Hal ini perlu kamu perhatikan agar tidak menyepelekan dan bisa lebih memotivasi untuk berangkat beribadah haji.

Pada dasarnya apa yang Allah SWT perintahkan merupakan sebuah kebaikan. Sementara itu, hal yang dilarang merupakan hal buruk yang wajib kita jauhi. Untuk hal yang dimaklumi berarti merupakan bentuk ampunan dari Allah SWT mengingat ada hal yang harus ditoleransi.

Ibadah haji merupakan sebuah kewajiban dari Allah SWT bagi orang uang sudah mampu. Pasalnya, ibadah haji merupakan bagian dari rukun Islam yang harus dipenuhi untuk menyempurnakan ibadah setiap orang.

Mengenai hukum tidak berhaji dengan sengaja berarti sama saja dengan mengingkari perintah Allah SWT. Untuk itu, sudah sepantasnya sebagai hamba Allah SWT yang baik untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Kesimpulan

Pelaksanaan ibadah haji hanya diwajibkan satu kali. Untuk itu, sudah sepantasnya kita meluangkan waktu dan tenaga untuk berangkat berhaji. Belum tentu kita bisa hidup dalam waktu yang lama di dunai ini.

Jika memang tidak mampu maka hukumnya tidak wajib. Namun, jika sebenarnya mampu beribadah haji tetapi mengingkari maka hukumnya sama saja berhutang dan harus dibayar meski sudah meninggal dunia.

Demikianlah artikel singkat, padat, dan jelas mengenai hukum haji bagi yang tidak mampu. Semoga artikel ini bisa membantumu memahami mengenai kewajiban haji.

Cara Sederhana Menghitung Waktu yang Baik untuk Sholat Dhuha

Sudah tahukah Anda jika ternyata ada waktu yang baik untuk sholat Dhuha. Sebenarnya sama halnya seperti jenis ibadah lainnya yang ada waktu terbaik untuk mengerjakannya, pada sholat dhuha pun ada.

Memang benar, ibadah tetap bernilai baik jika dikerjakan pada waktunya. Misalnya ibadah sholat fardhu yang dikerjakan pada saat waktunya. Tetapi yang perlu diingat adalah ada sebagian waktu dari waktu tersebut yang dikatakan lebih afdol atau lebih baik untuk mengerjakannya.

Begitupun juga dengan sholat dhuha. Memang benar rentan waktu untuk mengerjakan sholat dhuha bisa dikatakan cukup panjang. Tetapi alangkah lebih baiknya jika sholat dhuha dikerjakan pada waktu terbaiknya.

Keutamaan Sholat Dhuha

Penting untuk selalu diingat bahwa sholat dhuha sendiri merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Misalnya saja seperti pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Pada hadits tersebut dijelaskan jika Rasulullah pernah berwasiat kepada salah satu sahabatnya bernama Abu Hurairah. Ada tiga wasiat yang dijelaskan pada hadits tersebut. Pertama adalah puasa tiga hari dalam setiap bulan. Kedua adalah sholat dhuha dua rakaat. Dan yang ketiga adalah sholat witir sebelum tidur.

Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini adalah beberapa keutamaan dari membiasakan mengerjakan sholat dhuha. Diantaranya adalah:

  1. Sholat Awwabin

Sholat dhuha sendiri sering disebut sebagai sholat awwabin. Yakni sholatnya orang-orang yang sering bertaubat. Hal ini berdasarkan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majjah.

Pada hadits tersebut dijelaskan jika barang siapa yang membiasakan atau menjaga sholat dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Meskipun dosa yang dimiliknya sangatlah banyak. Bahkan pada hadits tersebut diibaratkan meskipun dosa yang dimiliki sebanyak buih yang ada di lautan sekalipun.

  1. Akan Dicukupkan Rezekinya oleh Allah SWT

Selama ini banyak yang mempercayai jika tujuan utama dari sholat dhuha adalah agar rezekinya selalu dilancarkan oleh Allah SWT. Anggapan seperti ini tidak semata-mata salah. Namun sebenarnya itu hanyalah salah satu keutamaan dari sholat dhuha itu sendiri.

Hal ini berdasarkan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Pada hadits tersebut dijelaskan jika setiap pagi semua ruas anggota badan manusia wajib dikeluarkan sedekah.

Nah, dalam hal ini sedekah tersebut bisa dilakukan dengan cara membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir, menyuruh kebaikan, dan melarang kemungkaran. Tetapi ternyata semua amalan tadi bisa digantikan dengan cara melakukan sholat dhuha dua rakaat.

Bahkan dijelaskan juga jika selain pahala sholat dhuha seperti orang yang bersedekah, Allah juga akan mencukupkan rezeki seorang muslim yang rutin melakukan sholat dhuha itu sendiri.

Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Dhuha sendiri sebenarnya merupakan nama waktu yang diawali dengan baiknya matahari sampai dengan sebelum tergelincir. Hal tersebut merujuk pendapat Syeikh Hasan Bin ‘Ammar dalam kitab Maraqil Falah. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah kapan waktu yang baik untuk sholat dhuha?

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama jika waktu antara terbit matahari sampai dengan tergelincirnya terbagi lagi menjadi tiga waktu, yaitu:

  1. Waktu Dhohwah

Waktu dhohwah ini dimulai pada saat terbitnya matahari sampai dengan naik kira-kira setinggi satu tombak.

  1. Waktu Dhuha

Waktu dhuha sendiri dimulai pada saat matahari sudah naik setinggi satu tombak sampai dengan waktu istiwa. Waktu istiwa sendiri bisa diartikan dengan waktu dimana matahari tepat berada di atas langit.

  1. Waktu dhaha

Waktu dhaha dimulai setelah waktu istiwa hingga tergelincirnya matahari. Lalu kapan waktu untuk melaksanakan sholat dhuha?

Cara Mudah Menghitung Waktu Terbaik Sholat dhuha

Jika melihat dari pembagian waktu di atas tadi, waktu dhuha bukanlah waktu saat matahari terbit. Tetapi dimulai setelah matahari ketinggiannya melewati satu tombak hingga sebelum memasuki waktu istiwa. Mungkin bisa diperkirakan sekitar pukul tujuh sampai dengan pukul sebelas.

Namun jika berbicara kapan waktu terbaik untuk melakukan sholat dhuha adalah setelah melewati seperempat hari. Lalu bagaimana cara menghitungnya? Sebenarnya mudah sekali jika masjid tersebut sudah memiliki jam digital masjid.

Pasalnya waktu akan ter-setting secara otomatis. Apalagi kini jam digital masjid pun sudah semakin canggih. Dan secara harga jam digital masjid pun sangatlah terjangkau. Namun jika Anda ingin menghitungnya secara manual, bisa dengan cara seperti ini.

Jika satu hari ada 12 jam (mulai jam 5 pagi hingga 5 sore), bagi menjadi empat. Sholat dhuha paling baik dikerjakan pada seperempat kedua dalam sehari. Atau paling tepatnya dikerjakan pada jam sembilan. Jam sembilan inilah yang banyak dikatakan sebagai waktu yang baik untuk sholat dhuha.

Mengulik Sejarah Turunnya Al Quran dan Hikmah Diturunkan Secara Bertahap

 

Al Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Karena salah satu peristiwa yang penting, maka waktu turunnya kitab suci Al Quran selalu diperingati setiap tahunnya.

Memang masih terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai waktu turunnya Al Quran. Namun banyak yang menyepakati jika Al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan.

Jika dilihat dari pertama kali saat diturunkan, ternyata bentuk Al Quran tidak seperti sekarang ini. Untuk mengetahui lebih lanjut dengan sejarah turunnya Al Quran, yuk simak ulasan berikut.

Peristiwa Singkat Diturunkannya Al Quran kepada Rasulullah

Al Quran sebenarnya tidak langsung diturunkan kepada nabi Muhammad melainkan menggunakan perantara malaikat Jibril. Sedangkan periode waktunya berlangsung selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari.

Jadi bisa dikatakan jika Al Quran diturunkan secara berangsur angsur. Adapun surat yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad adalah Surat Al Alaq.

Di saat itu, Rasulullah berusia 40 tahun sedang berada di dalam Gua Hira. Sedangkan wahyu yang kedua tidak langsung diturunkan melainkan dengan selisih waktu tiga tahun.

Dengan demikian, urutan surat yang saat ini ditemukan dalam Al Quran tidak disusun berdasarkan urutan diturunkannya ayat tersebut. Sedangkan lokasi diturunkannya Al Quran dibagi menjadi dua tempat.

Pertama kali, Al Quran diturunkan di kota Makkah selama kurun waktu tiga belas tahun. Adapun jumlah surat yang diturunkan selama Nabi Muhammad di Kota Makkah adalah 86 surat.

Surat di dalam Al Quran yang diturunkan di Makkah digolongkan dalam surat Makkiyah. Sedangkan kurun waktu diturunkannya Al Quran di Madinah selama sepuluh tahun.

Jumlah surat yang diterima Rasulullah ketika di Madinah sebanyak 28 surat. Semua surat yang diturunkan setelah Rosululloh hijrah ke Madinah digolongkan ke dalam surat Madaniyyah.

Para Ulama bersepakat jika sejarah turunnya Al Quran pertama kali di di Lauhul Mahfudz.  Kemudian Malaikat Jibril mengajarkannya kepada Nabi Muhammad.

Selanjutnya Rasulullah terdiam dan mengalami keadaan yang tenang dan khusu’ seperti sedang tertidur. Saat itu seakan beliau berpindah dari alam manusia ke alam malaikat.

Diturunkanny Al Quran membuat Rasulullah memanggil para sahabat untuk menulisnya seperti Zaid bin Tsabit. Hal ini bertujuan untuk menjaganya agar tetap bisa dibaca oleh umat islam.

Al Quran dihafalkan saat pertama kali diturunkan sehingga sampai kepada generasi kita saat ini melalui dua cara. Pertama dihafalkan dalam ingatan dan yang kedua disimpan dalam bentuk lembaran mushaf.

Mengambil Hikmah Diturunkannya Al Quran Dalam Kurun Waktu yang Lama

Dari banyak sumber memang menyebutkan jika periode disampaikannya kitab suci ini dilakukan secara berangsur angsur. Hal ini bukan tanpa sebab melainkan karena ada banyak hikmah yang bisa diambil.

Karena Al Quran disampaikan selama kurun waktu tertentu bertujuan untuk meneguhkan hati Nabi muhammad dan para sahabat. Sebagaimana diketahui jika dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah kala itu sangat berat.

Beliau harus menerima cemohan, makian hingga ancaman pembunuhan dari kafir Quraisy. Al Quran yang diturunkan secara berangsur angsur menjadi salah satu penguat Rasulullah untuk melewati ujian tersebut.

Tak hanya di Makkah, hikmah mengenai sejarah turunnya Al Quran secara berngsur ansur juga berlaku ketika Rosulloh sudah berada di Madinah. Kala itu, beliau sering dihadapkan pada perang dan kesulitan.

Hikmah yang kedua yaitu sebagai tantangan yang diajukan kepada kaum musyrik. Tidak jarang orang orang musyrik melemahkan keimanan kaum Muslimin dengan melontarkan pertanyaan pertanyaan aneh.

Adanya Al Quran memberikan jawaban sekaligus mukjizat yang tidak bisa ditandingi dengan siapapun. Hal ini sebagaimana peristiwa sayembara yang diadakan kaum kafir Quraisy untuk menandingi Al Quran.

Selain itu, Al Quran yang diturunkan secara berangsur angsur juga memudahkan kaum Muslimin untuk menghafal dan memahaminya. Apalagi setiap ayat Al Quran diturunkan berdasarkan peristiwa yang terjadi.

Menariknya lagi, hikmah diturunkannya Al Quran secara tidak langsung memberikan kemudahan bagi para sahabat untuk menjalankannya. Mengingat kebiasaan yang ada di Arab sudah sangat mengakar.

Salah satu contohnya yaitu hukum khamr yang tidak diharamkan mutlak melainkan secara bertahap. Dengan demikian, ada banyak hikmah yang bisa diambil dari sejarah turunnya Al Quran.

Dengan mengetahui sejarah singkat tentang diturunkannya Al Quran, ada banyak pengetahuan yang diperoleh. Ternyata Al Quran tidak langsung diturunkan kepada Rosulloh melainkan melalui malaikat Jibril.

Al Quran merupakan kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk menempuh jalan yang lurus. Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim, kita harus lebih banyak Tabbayun.

 

 

Asal Muasal dan Kandungan dari Surah Al-Humazah

Surah ini merupakan surah yang ke 104 dan terdiri dari 9 ayat. Surah ini terdapat pada juz ke 30 atau Juz ‘Amma. Kemudian surah ini juga temasuk dalam golongan surah Makkiyah yang dikarenakan turun di kota Mekkah.

Surah tersebut berisikan tentang ancaman dari Allah SWT terhadap orang yang suka mencela sesama, suka mengumpat, dan suka mengumpulkan harta namun tida dinafkahkan ke Jalan Allah.

Ibnu Abi Hatim pernah meriwayatkan dari Utsman dan Ibu Umar. Keduanya berkata bahwa saat mendengar ayat 1 pada surah ini ternyata turunya berkaitkan dengan Ubay bin Khalaf.

Kemudian diriwayatkan Ibnu Munzdir dari Ibnu Ishak, ia berkata bahwa Umayyah bin Khalaf selalu mengumpat dan mengejek ketika bertemu Rasulullah SAW. Setelah itu, Allah menurunkan Surah Al-Humazah secara keseluruhan.

Asbabun Nuzul

Imam Muqatil mengatakan bahwa surah ini turun dikarenakan peristiwa Walid bin Mughirah. Ketika tidak berada di hadapan Nabi Muhammad SAW, dia selalu mencela dan menggunjing Beliau.

Namun sejumlah pendapat lain meenyebut bahwa surah tersebut turun dikarenakan Jamil bin Mu’ammar, Akhnas bin Syariq, serta ash bin Wail. Sehingga masih banyak di lagi orang-orang yang menggunjing dan mencela Rasulullah selain Walid bin Mughirah.

Meski demikian, secara umum surah ini menjelaskan kepada semua orang yang mempunyai sifat mencela. Kemudian juga dengan orang yang suka menumpuk harta.

Kemudian pada tafsir Al-Munir Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menyebutkan apabila humazah memiliki arti menggunjing dan mencela kehormatan manusia. Selain itu ada lumazah yang memiliki arti menghina dengan menggunakan isyarat, alis, mata, dan tangan.

Sedangkan dengan intisari pada surah ini  adalah ancaman Allah kepada semua orang yang sering mencela orang lain. Selain itu, termasuk juga orang yang suka mengumpulkan harta dan suka mengumpat.

Ancaman tersebut juga terhadap orang yang sama sekali tidak pernah menginfakkan hartanya pada orang-orang yang tengah membutuhkannya. Seperti fakir miskin, anak yatim, dan lain sebagainya.

Terjemah dan Isi Kandungannya

إِنَّهَا .الْأَفْئِدَةِ عَلَى تَطَّلِعُ الَّتِي .الْمُوقَدَةُ نَارُ .الْحُطَمَةُ مَا أَدْرَاكَ وَمَا .الْحُطَمَةِ فِي لَيُنْبَذَنَّ كَلَّا .أَخْلَدَهُ مَالَهُ أَنَّ يَحْسَبُ .وَعَدَّدَهُ مَالًا جَمَعَ الَّذِي .لُمَزَةٍ هُمَزَةٍ لِكُلِّ وَيْلٌ

مُمَدَّدَةٍ عَمَدٍ فِي .مُؤْصَدَةٌ عَلَيْهِمْ

(Wailul likulli humazatil lumazah. Alladzii jama’a maalaaw wa’addadah. Yahsabu anna maalahuu akhladah. Kallaa layumbadzanna fil huthomah. Wamaa adrooka mal huthomah. Naarulloohil muuqodah. Allatii taththoli’u ‘alal af’idah. Innahaa ‘alaihim mu’shodah. Fii ‘amadim mumaddadah)

Artinya:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”. (QS. Al Humazah: 1-9).

Kandungan dari Surah Al-Humazah

Terdapat sejumlah kandungan dalam surah tersebut yang disari dari beberapa tafsir. Mulai dari Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim karya Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Fi Zilalil Quran karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Berikut isi kandungannya :

  1. Surah tersebut memiliki ancaman kepada orang-orang yang suka mengumpat dan mencela. Bagi mereka yang melakukan hal tersebut, maka dipastikan akan celaka.
  2. Kemudian bagi pengumpat dan pencela memiliki kecelakaan tersendiri. Salah satunya adalah orang yang suka mengumpulkan harta dan setiap saat menghitungnya, hal itu dikarenakan cintanta kepada dunia. Terlebih lagi bukan dikarenakan cintanya kepada dunia, melainkan karena merasa lebih baik dari orang lain. Sehingga suka mencaci dan mencela.
  3. Kemudian orang yang sudah tertipun dengan harta dan rasa cintanya kepada dunia, mereka akan merasa bahwa bakal kekal selamanya dengan hartanya tersebut. Seseorang tersebut bakal merasa akan berkuasa dengan hartanya selamanya. Bahkan, mereka tidak sampai menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian.
  4. Hal tersebut senantiasa membuat Allah murka. Allah sudah menyiapkan siksa pedih kepada para pengumpat dan pencela yang sangat cinta dunia dan merasa akan kekal selamanya bersama harta tersebut.
  5. Mereka sudah disiapkan siksa yang pedih berupa neraka jahanam. Api dari neraka tersebut siap menghancurkannya. Selain itu, api tersebut juga akan membakar seluruh badan hingga hatinya yang menjadi tempat dari segala kemusyrikan dan kedurhakaan.
  6. Dengan turunnya surat tersebut, Allah selalu mengingatkan kepada hambanya supaya tidak terjangkiti penyakit moral, seperti suka menghina dan mencela. Kemudian juga dengan suka mencaci dan memaki.

Secara garis besar, Fataya menyimpulkan isi dari surah tersebut menyampaikan tentang kecaman terhadap sejumlah orang. Mulai dari orang yang suka mengumpat dan mencela orang lain. Kemudian orang yang sibuk bekerja dan sampai bahkan mereka menumpuk hartanya dan tidak mau membelanjakannya di jalan Allah SWT.

Bahkan Allah SWT sudah menyiapkan siksa bagi mereka yang suka melakukan beberapa hal di atas. Allah telah menyiapkan neraka jahanam yang bisa membakar seluruh tubuh. Termasuk dengan hati yang menjadi sumber kemusyrikan dan kedurhakaan.